Pertama-tama, saya memohon maaf kepada Ibu Kartini, oleh karena kemungkinan hal ini akan sedikit menyinggung perasaan beliau.
Kedua-dua saya ingin menegaskan bahwa walaupun saya tidak suka mengganyang Malaysia, saya ini pencinta budaya Indonesia.
Ketiga-tiga, saya jujur teramat girang bukan kepalang karena beberapa bulan lalu, saya bisa wisuda tanpa konde, tanpa kebaya dan tanpa nyalon dari Subuh. Tetapi itu bukanlah serta-merta berarti saya tak menghargai budaya bangsa sendiri.
Kalau anda mengartikan ketidaksukaan saya pada konde di hari wisuda sebagai rasa tak menghargai saya pada budaya Indonesia, maka anda sangat-sangat salah! Karena, bukanlah begitu yang saya maksud.
Perlu dijelaskan bahwa I am not a school person. Saya pemalas naudzubillah. Setelah lulus pendidikan Strata 1, saya tidak kepingin melanjutkan sekolah lagi. Malas! Pernah saya berkoar-koar iseng-iseng ngawur, kalaupun saya harus meneruskan kuliah, saya tak ingin di Indonesia supaya wisudanya tak perlu berkonde dan berdandan ribet.
SEBENTAR. Jangan protes dulu lah. Konde dan kebaya pada wisuda di Indonesia adalah dress code yang umum, tetapi memang tidak mutlak. Saya sangat-sangat tahu itu. Memang ada universitas yang mengharuskan wisudawannya memakai kebaya dan konde, tetapi ada juga yang tidak. Ada yang memang ‘you don’t have to, but everybody wears it so you wear juga aja lah!’
Telah saya katakan, saya ini pemalas akut, apalagi untuk sekolah lagi. Tapi pada suatu hari seorang penasehat spiritual menyarankan saya mengikuti semacam program iseng-iseng berhadiah untuk bisa sekolah gratis di luar negeri. Kepincut iming-iming ingin tau rasanya musim winter (MUSIM WINTER, bok!) sambil berpoto mengenakan coat dan syal (alah-alah) dengan bergaya kedinginan untuk dipasang di Friendster (waktu itu Friendster masih ngetrend loh), saya pun mendaptar dan dengan kemlinthi (cari artinya di kamus bahasa Jawa Jogja-Magelangan) berangkat keluar negeri.
Singkat cerita, saya pun lulus dengan nilai cemerlang. Tapi itu bohong. Yang benar adalah, dengan banyak keberuntungan saya tidak mendapat nilai F dan diperbolehkan wisuda. Menjelang wisuda saya itu, saya teringat masa-masa wisuda saya yang dulu. Di mana saya heboh mencari salon yang dandanannya yahud alias asoy serta membookingnya. Saya harus berangkat ke salon subuh hari. Sambil ngantuk dan agak mulas, saya dan beberapa teman dibedaki mirip kabuki. Pada hari itu, saya meminta kepada si ibu-ibu salon untuk membuat konde kecil alias cepol tapi si ibunya kagak ngerti. Dia bilang konde yang dia pilih untuk saya adalah yang terkecil di salon itu, dan menurut saya ya, itu humongous! Saya juga benci warna gincunya, karena sedikit mirip dengan warna ember berisi rendaman pakaian dalam di kos saya. Saya benci sekali tampang saya pada hari itu.
Perlu diketahui, saya memang tidak suka dandanan menor. Maka pada hari pernikahan saya pun, saya sedikit perfeksionis ngotot melakukan tes make up dengan beberapa perias untuk memastikan dandanan saya cukup natural. Kalau ada yang bilang, seorang penganten harus menor, dia harus siap-siap tidak saya dengar. Sebab saya tidak akan bisa menerima itu. Ini opini pribadi. Yang suka dandan menor tidak perlu sakit hati.
Pada hari wisuda saya di Melbeurn, Kerajaan Ngostrali, saya bangun siang seperti biasa (karena wisudanya juga jam setengah 3 sore sih). Saya setrika kemeja dan celana panjang. Saya pinjam alas bedak dan gincu kawan saya. Rambut disisir rapi, tapi begitu keluar rumah langsung berantakan diterpa angin kutub Selatan. Saya memakai sepatu pantopel saya. Merasa puas. Inilah wisuda terkeren sepanjang hidup saya!
Beberapa teman Indonesia ada yang mengenakan kebaya modern dan rok batik pada wisuda hari itu, tetapi tentunya mereka tidak bersalon, berkonde, atau bermake up tebal. Saya tidak membawa kebaya dari Indonesia jadi saya simply memakai kemeja dengan celana panjang berwarna hitam.
Pihak universitas telah memberitahu bahwa wisuda adalah formal occasion thus berpakaianlah seperti akan menghadiri business interview. Saya melihat banyak yang memakai gaun tetapi banyak juga yang cuek melanggar dress code dari universitas, bahkan dengan santai memakai pakaian yang tidak bisa dibilang formal seperti kaos maupun legging. Padahal, toga di universitas kami berbeda dengan toga di Indonesia yang tertutup di bagian depannya. Toga kami itu justru terbuka di bagian depan sehingga baju apapun yang kami pakai di bawah toga dapat terlihat dengan jelas.
Hal ini bertolak belakang dengan toga di Indonesia yang tertutup semua di bagian badannya. Inilah yang membuat saya merasa betapa sia-sia berkebaya sementara kebayanya pun tidak akan terlihat karena tersembunyi di balik toga. Kebaya dan konde adalah budaya bangsa dan budaya bangsa adalah warisan leluhur yang patut dilestarikan. Namun menurut saya, pengaplikasiannya pun patut diperhitungkan pas tidaknya, LEBAY tidaknya. Saya tetap merasa, berkebaya, berkonde dan nyalon untuk wisuda adalah suatu pemborosan waktu, tenaga dan uang. Sekali lagi, ini opini pribadi loh.
Kapan hari, saya membahas ini dengan teman kuliah S1 saya. Berdasarkan petunjuk saya, ia pun menuliskan percakapan itu di dalam blognya. Karena dia ini pandai berbahasa Inggris, maka percakapan itu diterjemahkannya. Diskusi kami itu bisa anda lihat dekat sini, tetapi sebaiknya tidak usah melihat fotonya. DISKUSI KONDE WISUDA.
***
Pic : Photo courtesy of hubby baby darling







