Friday, May 1, 2009

Uneg-uneg Konde

Pertama-tama, saya memohon maaf kepada Ibu Kartini, oleh karena kemungkinan hal ini akan sedikit menyinggung perasaan beliau.

Kedua-dua saya ingin menegaskan bahwa walaupun saya tidak suka mengganyang Malaysia, saya ini pencinta budaya Indonesia.

Ketiga-tiga, saya jujur teramat girang bukan kepalang karena beberapa bulan lalu, saya bisa wisuda tanpa konde, tanpa kebaya dan tanpa nyalon dari Subuh. Tetapi itu bukanlah serta-merta berarti saya tak menghargai budaya bangsa sendiri.

Kalau anda mengartikan ketidaksukaan saya pada konde di hari wisuda sebagai rasa tak menghargai saya pada budaya Indonesia, maka anda sangat-sangat salah! Karena, bukanlah begitu yang saya maksud.

Perlu dijelaskan bahwa I am not a school person. Saya pemalas naudzubillah. Setelah lulus pendidikan Strata 1, saya tidak kepingin melanjutkan sekolah lagi. Malas! Pernah saya berkoar-koar iseng-iseng ngawur, kalaupun saya harus meneruskan kuliah, saya tak ingin di Indonesia supaya wisudanya tak perlu berkonde dan berdandan ribet.

SEBENTAR. Jangan protes dulu lah. Konde dan kebaya pada wisuda di Indonesia adalah dress code yang umum, tetapi memang tidak mutlak. Saya sangat-sangat tahu itu. Memang ada universitas yang mengharuskan wisudawannya memakai kebaya dan konde, tetapi ada juga yang tidak. Ada yang memang ‘you don’t have to, but everybody wears it so you wear juga aja lah!’

Telah saya katakan, saya ini pemalas akut, apalagi untuk sekolah lagi. Tapi pada suatu hari seorang penasehat spiritual menyarankan saya mengikuti semacam program iseng-iseng berhadiah untuk bisa sekolah gratis di luar negeri. Kepincut iming-iming ingin tau rasanya musim winter (MUSIM WINTER, bok!) sambil berpoto mengenakan coat dan syal (alah-alah) dengan bergaya kedinginan untuk dipasang di Friendster (waktu itu Friendster masih ngetrend loh), saya pun mendaptar dan dengan kemlinthi (cari artinya di kamus bahasa Jawa Jogja-Magelangan) berangkat keluar negeri.

Singkat cerita, saya pun lulus dengan nilai cemerlang. Tapi itu bohong. Yang benar adalah, dengan banyak keberuntungan saya tidak mendapat nilai F dan diperbolehkan wisuda. Menjelang wisuda saya itu, saya teringat masa-masa wisuda saya yang dulu. Di mana saya heboh mencari salon yang dandanannya yahud alias asoy serta membookingnya. Saya harus berangkat ke salon subuh hari. Sambil ngantuk dan agak mulas, saya dan beberapa teman dibedaki mirip kabuki. Pada hari itu, saya meminta kepada si ibu-ibu salon untuk membuat konde kecil alias cepol tapi si ibunya kagak ngerti. Dia bilang konde yang dia pilih untuk saya adalah yang terkecil di salon itu, dan menurut saya ya, itu humongous! Saya juga benci warna gincunya, karena sedikit mirip dengan warna ember berisi rendaman pakaian dalam di kos saya. Saya benci sekali tampang saya pada hari itu.

Perlu diketahui, saya memang tidak suka dandanan menor. Maka pada hari pernikahan saya pun, saya sedikit perfeksionis ngotot melakukan tes make up dengan beberapa perias untuk memastikan dandanan saya cukup natural. Kalau ada yang bilang, seorang penganten harus menor, dia harus siap-siap tidak saya dengar. Sebab saya tidak akan bisa menerima itu. Ini opini pribadi. Yang suka dandan menor tidak perlu sakit hati.

Pada hari wisuda saya di Melbeurn, Kerajaan Ngostrali, saya bangun siang seperti biasa (karena wisudanya juga jam setengah 3 sore sih). Saya setrika kemeja dan celana panjang. Saya pinjam alas bedak dan gincu kawan saya. Rambut disisir rapi, tapi begitu keluar rumah langsung berantakan diterpa angin kutub Selatan. Saya memakai sepatu pantopel saya. Merasa puas. Inilah wisuda terkeren sepanjang hidup saya!

Beberapa teman Indonesia ada yang mengenakan kebaya modern dan rok batik pada wisuda hari itu, tetapi tentunya mereka tidak bersalon, berkonde, atau bermake up tebal. Saya tidak membawa kebaya dari Indonesia jadi saya simply memakai kemeja dengan celana panjang berwarna hitam.

Pihak universitas telah memberitahu bahwa wisuda adalah formal occasion thus berpakaianlah seperti akan menghadiri business interview. Saya melihat banyak yang memakai gaun tetapi banyak juga yang cuek melanggar dress code dari universitas, bahkan dengan santai memakai pakaian yang tidak bisa dibilang formal seperti kaos maupun legging. Padahal, toga di universitas kami berbeda dengan toga di Indonesia yang tertutup di bagian depannya. Toga kami itu justru terbuka di bagian depan sehingga baju apapun yang kami pakai di bawah toga dapat terlihat dengan jelas.

Hal ini bertolak belakang dengan toga di Indonesia yang tertutup semua di bagian badannya. Inilah yang membuat saya merasa betapa sia-sia berkebaya sementara kebayanya pun tidak akan terlihat karena tersembunyi di balik toga. Kebaya dan konde adalah budaya bangsa dan budaya bangsa adalah warisan leluhur yang patut dilestarikan. Namun menurut saya, pengaplikasiannya pun patut diperhitungkan pas tidaknya, LEBAY tidaknya. Saya tetap merasa, berkebaya, berkonde dan nyalon untuk wisuda adalah suatu pemborosan waktu, tenaga dan uang. Sekali lagi, ini opini pribadi loh.

Kapan hari, saya membahas ini dengan teman kuliah S1 saya. Berdasarkan petunjuk saya, ia pun menuliskan percakapan itu di dalam blognya. Karena dia ini pandai berbahasa Inggris, maka percakapan itu diterjemahkannya. Diskusi kami itu bisa anda lihat dekat sini, tetapi sebaiknya tidak usah melihat fotonya. DISKUSI KONDE WISUDA.

***

Pic : Photo courtesy of hubby baby darling


Wednesday, June 25, 2008

A Rrrrrreal 'Indro' Story, I Tell You!

Jangan suudzon. Jangan geer (kalau nama Anda kebetulan 'Indro). Wong saya tidak sedang bercerita tentang Indro Warkop ataupun Indro yang lain. Akan tetapi, ini tentang orang-orang Indro itu lho. Apa pula orang Indro itu? Awalnya saya tahu dari suami saya yang literally kuli dan buruh itu, bahwa di tempatnya bekerja, di tempat pengepakan dan pembungkusan coklat dan lain sebagainya itu, banyak sekali orang Indro.

Dan 'Indro' adalah cara suami saya dan teman-teman sebangsa dan setanah airnya menyebut orang-orang dari negeri yang 3 huruf pertama dalam nama negaranya dan 3 huruf pertama dalam nama mata uangnya itu sama persis dengan negara kita.

'Indro' hanyalah seperti sebuah kode yang digunakan suami dan teman-temannya jika membicarakan orang India. Menurut saya, mereka itu sudah cukup keterlaluan dengan seenaknya mengganti-ganti nama dan memberi julukan sembarangan. Sedangkan baru dipanggil Indon saja sudah teriak ganyang dan putuskan hubungan diplomatik dengan Malaysia! Wah, apakah itu tidaklah hebat?

Dan memang, seperti halnya Chai-na (RRC itu bukan Chi-na lho, apalagi Ci-na, tetapi Chaii-naa, kata mbak-mbak staf lokal Kedubes RRC Jakarta yang memarahi kawan saya, makanya, betul toh kata saya, jangan main-main dengan nama orang), sebagai rising power, India adalah negara yang mengeskpor banyak sekali warga negaranya ke Australia. Alhasil, banyak sekali Indro-indro yang sering kami temui di kota ini. Khususnya ya di tempat suami saya bekerja itu.

Syahdan, seorang India bertanya kepada suami saya, "Hey brother, istri anda kuliah di mana?" Suami saya lantas menyebut nama yunipersitas yang cukup ngetop di kota Melben. Orang India langsung terbelalak, "Wiiih, hebat benerr, brother!" Itu kan yunipersitas yang sangat mahal sekaliii!" Suami saya cuma mesam-mesem. Sebagai orang yang menjaga imej supaya tetap excellent, dia tidak menjelaskan bahwa bisanya istrinya ketrima di yunipersitas itu ya hasil dari ngemis-ngemis sama pemerintah asing dan ikut tes ini anu itu.

Kemudian orang India ini bercerita bahwa banyak sekali kawannya sebangsa dan setanah air yang berdiaspora ke negeri lain mencoba peruntungan, "Rekan-rekan kami yang migrasi ke Inggris itu biasanya orang-orang kaya, karena biaya hidup di sana itu lebih tinggi dari di sini. Sedang yang di Australia ini ya kemampuannya masih di bawah mereka yang di Inggris itu." Lalu dia juga bercerita bahwa banyak yang kepingin bekerja di Australia dengan alasan yang sama dengan suami saya. Gampang dapet duit, buang duit, terus dapet duit lagi. Kerja-kerja kuli saja, dalam dua minggu sudah bisa membeli laptop. Wah, apalagi kalau uangnya dikirimkan ke negara asal sana. Bisa membangun rumah di kampung halaman yang temboknya full ditempeli tegel keramik semua.

Lalu bagaimana ceritanya orang-orang India ini masuk ke Australia yang tentunya sistem keimigrasiannya tidaklah gampang-gampang ditembus? Rupanya mereka memakai visa pelajar, dengan mendaftar ke sekolah-sekolah atau universitas-universitas kwalitet tiga, empat, lima, dan seterusnya. Yang penting bisa masuk Ostrali dan mendapat kerja part time dulu. Pernah waktu itu di dekat stasiun, kami diajak ngobrol seorang lelaki India yang ramah lagi santun. Dia bilang dia kuliah sambil kerja dan ketika dia menyebut nama universitasnya, nama itu tidaklah berbunyi sama sekali di telinga kami. Doesn't ring a bell at all. Maka, waktu itu kami hanya manggut-manggut sambil senyum, seakan-akan tahu. Itulah sebabnya, teman India suami saya membelalak ketika mendengar salah satu universitas ngetop dan mahal di Melben. Mungkin dia pikir, suami saya yang membayar uang kuliah saya.

Tentang makanan India, saya tidak pernah suka, Gimana ya, pokoknya tidak suka. Rasanya itu lho, terlalu menohok. Not to mention baunya. Herannya, makanan itu banyak disuka oleh bule-bule di seluruh penjuru dunia. Kadang saya berpikir, bagi saya saja yang terbiasa makan rempah-rempah, makanan India sudah cukup intolerable di lidah, apalagi buat para bule itu? Tapi mungkin, bagi mereka itu eksotis. Dan jelas-jelas mereka lebih suka dan kenal Indian Cuisine ketimbang Indonesian Cuisine. Waktu baru datang ke Melbourne, dalam masa orientasi kampus, kami seangkatan dibawa ke sebuah restoran India. Mendengar genre-nya saja saya sudah malas, ditambah lagi ketika mendengar nama restoran itu. GAYLORD. Males kaaaaaaaaaan. Dasar orang Indonesia yang sok tahu padahal IELTSnya tidak khatam, saya tidak tahu bahwa 'gay' itu sebenarnya berarti joyful, merry, seneng, girang, ceria, dan sebangsanya. Itu juga saya tahunya dari seorang kawan bule yang cas cis cus berbahasa Indonesia kerana suaminya orang Magelang.

Mohon maaf. Ada satu lagi mitos yang percaya tidak percaya, katanya memang ciri khasnya orang India. Ini maaf ya, konon mereka ini baunya khas. Sebab, konon itu karena makanan mereka yang over rempah-rempah dan fakta bahwa mereka addicted to bawang. Pernah lihat mereka belanja bawang bombay? Bukan seplastik, bow. Seringnya itu, sekarung. Selain itu kadang, ini mohon maaf lagi ya, ada bau-bau mencolok yang berasal dari rambut mereka. Agaknya untuk menjaga keindahan serta kemilau rambut, mereka memakai minyak-minyakan, entah minyak kelapa atau apa. Saya tak tahu. Seringkali, di angkutan umum, bau-bau-an itu sangat mudah dikenali. Sebelum melihat sumbernya saja sewaktu duduk di dalam tram, teman saya sambil memencang-mencongkan hidungnya berujar, "Pasti ada orang India deh," Saya cuma berkata, "Rasis lo." Dan kami berdua tertawa terkekeh-kekeh sama seperti jika kami mendengar aksen India dalam pengucapan Bahasa Inggris (tidak percaya? coba simak yang satu ini). Juga melihat gaya bicara mereka yang selalu bergerak seluruh anggota badannya.

Kata teman saya di Mumbai sono, tidak semua orang India berbau yang mengganggu. Banyak juga yang wangi. Ada juga yang bilang, kalau yang berbau seperti itu pastilah dari kasta yang tidak tinggi. Waduhhh entahlah. I'm not in the position to comment on that lah, soalnya takut salah.

Suami saya sering mengeluhkan cara orang India mendengarkan musik (tentunya musik-musik seperti dalam filem-filem Bollywood itu) di tempat umum. Sebuah mobil yang jendelanya terbuka lewat di depan kami dan terdengar musik jedag-jedug lagu India. Kencang sekali. Turunlah 3 lelaki India, masuk ke dalam rumah makan take away India. Di halte tram, seorang lelaki India menyetel kencang-kencang lagu India di henponnya. Tidak dengan earphone, lho. Melainkan dengan loudspeaker. Di dalam tram? Itu yang suka bikin suami saya geleng-geleng kepala. Sering sekali kami lihat dan dengar orang-orang India mendengarkan musik (India) dengan earphone, baik itu dari henpon, ipod maupun walkman, dan itu yah, kencang sekali. Kata suami saya dengan senyum mengece, "Buat apaan pake earphone? Percuma bener! Wong yang lain juga bisa ikut ndengerin!" Sepertinya mereka itu bangga sekali dengan budayanya sehingga ingin berbagi dengan dan menunjukkan kepada orang lain. Selain itu agaknya, kurang memper (kalau kata tante saya), jika musik itu tidak disetel kencang-kencang.

Soal budaya, nampaknya orang India terlihat konsisten dalam mempertahankan budaya dan tradisinya. Kami sering melihat yang laki-laki memakai tutup kepala khas India-nya*. Yang ibu-ibu dan remaja putri sering kali memakai baju tradisionalnya. Itu pemandangan yang sudah tidak asing lagi di Melbourne. Suami saya lantas mengakui kehebatan orang India dan membandingkannya dengan orang Indonesia yang tidak memakai blangkon maupun kebaya di dalam tram.

Ada satu lagi yang sering dikritik suami saya secara berulang-ulang. Yaitu cara orang India menyapa orang lain. Mereka menyapa kawan laki-laki dengan 'brother', yang lebih tua dengan 'uncle' dan kalau perempuan 'auntie'. Dia bercerita, di depan stasiun Flagstaff ada seorang bule nyelonong menyeberang jalan padahal waktu itu sedang tanda hijau untuk pengendara mobil. Seorang supir taksi India lantas menglaksonnya dengan gegap gempita dan berteriak marah, "HEY BROTHER!!!!" Lelaki bule itu tak kalah sewot dengan menjawab, "I'm not your brother!!!" Kata suami saya sambil tertawa seperti nyukurin supir taksi itu, "Lagian ngapain sih sukanya manggil brother, brother segala"

Saya menjawab, "Ah orang Timur Tengah yang jualan di butcher halal itu juga kan manggilnya brother, sister... Biasa aja lagee. It's about culture aja gitu loh. Lha orang mau melestarikan budaya kok disewotin. Biarin aja lah. Lagian yah, orang Indonesia juga suka manggil pake embel-embel begitu kaan. Mas, mbak, om, tante, pakde, bude, padahal juga belom tentu budenya. Brother itu kan artinya 'mas' juga kan? Sama aja kan toh? Bener kan, yes? Iyes doong!"

Suami saya itu (kadang-kadang) memang Indonesia sekali, suka ngritik orang tanpa bercermin pada diri sendiri. Sedangkan saya? Saya juga Indonesia sekali. Bisanya sok tahu dan meremehkan orang lain, padahal orang lain itu adalah orang yang pintar mencari peluang, insting survivalnya tinggi, dan pencinta serta pelestari budaya, seperti orang-orang Indro, eh India itu. Saya juga Indonesia banget karena kemungkinan saya iri dengan India yang sudah menjadi rising power di dunia, seperti Chaina. Sementara negara saya, kok ya masih begitu-begitu saja. Jangan-jangan selamanya tak akan pernah bangkit. Ah, nehi-nehi deeh....

***
PS: Saya ucapkan maaf lahir batin kepada my brothers, sister, uncles etc. etc dari India, jika ada perkataan yang menyinggung maupun menyungging.

*Menurut kawan saya, Jeng Sesanti Accha Accha Bolo Bolo Van Mumbai, turban orang India itu bernama dastaar, dan hanya dipakai oleh laki-laki dari suku Sikh. Sebenernya turban itu merupakan kain panjang yang diubet-ubetkan dan menutup rambut mereka yang secara tradisi dibiarkan panjang alias tidak boleh dipotong. Biasanya mereka itu dari golongan menengah ke atas. Sedangkan pakaian tradisional India yang sering saya lihat dipakai oleh ibu-ibu dan remaja putrinya di Melben itu adalah salwar kameez. Merupakan pakaian sehari-hari yang kalau di India sana dipakai hampir dalam setiap kesempatan.

Foto diambil dari jellyfishonline.blogspot.com




Monday, June 16, 2008

This Blog is Not Under Construction


Empty-handed. But the layout really breathes new life into my days.
Whateva that means gitu loh dong deh.

Sunday, June 15, 2008

This Blog is Definitely Under Construction


Be back. Not soon. But I will. Probably.

Monday, April 21, 2008

Cucaracha Phobia

La cucaracha, la cucaracha

Ya no puede caminar

Porque no tiene, porque le falta

Marijuana pa' fumar

(La Cucaracha)

Pernahkah Anda mendengar lagu tersebut? Pasti pernah, tapi Anda tidak menyadarinya. Coba saja lihat ini:


Jika masih perlu contoh lain, sila tuju ke link ini

Cucaracha adalah, tidak lain dan tidak bukan, cockroach. Kecoa, coro, cucunguk. Nah, tahukah Anda, saya ini fobia kecoa?

Dua minggu lalu, saya dan teman saya pulang dari kuliah malam. Masih di sekitar kampus, saya melihat seekor kecoa berkelebat dalam kegelapan di dekat kaki saya. Langsung saja saya melompat menghindar dan mencengkram tangan teman saya. Dia bertanya dengan heran (karena selama dia berteman dengan saya dia belum pernah melihat saya berada satu scene atau satu frame dengan kecoa): “Kok elu takut gitu ama kecoa?” Saya menjawab, “Lah elo kaga tau gua fobia kecoa?” Itulah kali pertama saya bertemu secara langsung dengan kecoa Australia, selama hampir satu tahun ini saya tidak pernah bertemu secara live dengan musuh saya yang satu itu. Saya memang fobia kecoa.

Tapi kata teman saya yang belajar psikologi di universitas, kalau saya masih bisa atau tahan melihat gambar atau foto kecoa, itu artinya saya belum bisa dibilang fobia. Terlepas dari ini fobia atau bukan, saya memang sangat-sangat anti kecoa. Kalau dibilang geli pada kecoa, sebenarnya bukan hanya sekedar geli atau jijik, tetapi takut. Saya tidak bisa berada satu ruangan dengan seekor kecoa. Kalau melihat kecoa, saya langsung resah, gelisah, jantung berdebar, gemetar, berkeringat dingin dan susah berkonsentrasi. Karena, fokus saya hanyalah pada kecoa itu. Apakah dia akan terbang ke arah saya, merambati badan saya, dan bagaimana cara membunuhnya (saya sering memikirkan hak hidup kecoa sebagai makhluk Tuhan, tapi yah..bagaimana lagi). Jangan pernah bercanda dengan mengirimi saya paket berisi kecoa, karena akan sangat fatal akibatnya.

Pernah saya heboh di sebuah warung nasi goreng kaki lima, ketika saya melihat ada kecoa yang berterbangan. Sampai-sampai mas-mas tukang nasi gorengnya bertanya dengan heran (mungkin dia merasa annoyed melihat tingkah saya yang berlebihan), “Ada apa tho Mbak??” Lho, apa dia tidak lihat ada kecoa berseliweran di depan muka saya? Saya juga benci kalau saya harus naik kereta yang banyak kecoanya, di mana saya terkurung selama berjam-jam di gerbong tersebut dengan kecoa-kecoa itu! PT KAI harus tahu, di kelas bisnis itu banyak sekali kecoa lho! Bukan hanya kecoa yang kecil-kecil, tetapi juga yang besar-besar! Ingin sekali saya turun di salah satu stasiun, tetapi tentu saja itu adalah suatu tindakan yang bodoh.

Tapi sesungguhnya, saya merasa ketakutan saya pada kecoa ini sudah sedikit berkurang dibanding tahun-tahun sebelumnya. Karena apa? Sekarang, saya sudah berani menyemprot sendiri seekor kecoa dengan racun serangga, atau bahkan mengambil sapu untuk memukulnya. Walaupun gerakan-gerakan yang saya buat ketika melakukan salah satu dari dua hal tersebut sangatlah menggelikan bagi orang lain yang melihatnya. Semua orang jijik dan takut pada binatang berbisa seperti lipan. Saya juga, tapi saya masih lebih berani menggebuk lipan, dibanding menggebuk kecoa.

Kenapa saya takut kecoa? Tidak tahu. Tak bisa saya jelaskan. Yang jelas ya saya takut, bahkan bisa stres berat. Contohnya ketika saya awal-awal tinggal di Semarang dan harus kos. Satu kekhawatiran saya sejak jauh hari, apakah di tempat kos saya nanti banyak kecoa. Dan ternyata iya!!! Saya memang tidak begitu ‘sreg’ dengan tempat kos saya yang pertama itu. Karena bangunannya bangunan kuno dan sudah saya duga pasti menjadi tempat persembunyian banyak kecoa. Ternyata benar, jika malam tiba, banyak kecoa berterbangan dan berkeliaran (saya malah jadi tahu bahwa, hanya kecoa betina yang bisa terbang). Yang bikin saya lebih stres, saya jadi takut ke kamar mandi, karena di sana sering ada kecoa. Jika matahari mulai tenggelam, dan saya sedang mandi, di sebuah lubang di pojok kamar mandi tampak sungut kecoa menyembul dan bergerak-gerak. Bisa dibayangkan, betapa cemasnya saya ketika mandi. Sedang di rumah saja, saya pernah benar-benar lari dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk karena ternyata ada kecoa di sana!

Suami saya alisnya cukup tebal (bukan bagus ya, tetapi cukup tebal). Ada beberapa rambut di alisnya yang saking panjang dan mencuatnya, mengingatkan saya pada sungut kecoa yang bergerak-gerak di pojok kamar mandi. Saya sudah protes ingin memotong beberapa helai dari alis itu tetapi dia menolak. Jadi kalau kami sedang duduk-duduk menonton televisi sambil mengobrol dan kebetulan saya melihat wajahnya, saya sering get distracted oleh sungut kecoa yang melambai-lambai dari alis suami saya.

Satu hal yang saya suka dengan rumah saya di Melbourne adalah: TIDAK ADA KECOANYA! Di rumah saya di Jakarta, banyak kecoanya! Apalagi di kamar mandi, kalau lampunya lama tidak dinyalakan. Di kamar mandi itu memang ada beberapa lubang tempat mereka berdiam. Sudah beberapa kali saya komplain pada orang tua saya untuk menutup lubang itu tetapi tidak digubris. Saya menyesali fakta bahwa mereka kurang memahami rasa takut saya pada kecoa. Saya selalu bercita-cita ingin membuat kamar mandi sendiri yang bebas dari kecoa.

Tadinya saya kira, Australia ini cukup bebas dari kecoa. Walaupun di sini banyak binatang berbisa seperti laba-laba dan ularnya. Tetapi saya salah besar. Ternyata, di sini sama saja. Banyak kecoa (kecuali syukur alhamdulillah di rumah saya). Suami saya bilang, di gudang tempatnya bekerja, banyak kecoa. Okelah itu gudang. Tapi kata teman saya, sewaktu mereka berkunjung ke rumah seorang teman di kota lain, rumahnya itu banyak kecoa! Apalagi kalau lampu dimatikan, kecoa-kecoa langsung saja berpesta. Betapa syoknya saya mendengar itu.

Tapi tidak ada yang lebih mengejutkan saya dari berita di program A Current Affair-nya Channel 9. Sebuah rumah yang penuh, I repeat, penuh dengan kecoa. Anda bisa melihat videonya di sini, karena ini menarik sekali. Walaupun melihatnya saja saya tidak begitu sanggup.

Begitulah cerita saya tentang saya. Maaf, maksud saya tentang kecoa. Saya rasa fobia kecoa adalah hal yang wajar. Kemarin dulu, saya menonton acara televisi mengenai jenis-jenis fobia. Ada beberapa fobia aneh seperti fobia terhadap orang cantik! I repeat, fobia sama orang cantik. Itu baru aneh! Untunglah saya ini tidak terlalu cantik, melainkan hanya sedikit menarik (ahahahahah...husy!). Jadi tidak ada yang perlu fobia sama saya. Tapi mungkin juga, ada beberapa kecoa yang fobia sama saya, karena mata saya selalu tajam menangkap keberadaan mereka dan siap membasmi dengan sapu atau racun serangga.

***

Wednesday, April 16, 2008

Indomie dan Teh Botol


Ini bukan iklan. Bukan juga penawaran paket hemat dari warung makan di daerah Undip Pleburan. Ini adalah sebuah pengamatan, atau lebih tepatnya, kerjaan orang yang iseng walaupun sudah tahu harusnya mengerjakan tugas daripada memikirkan hal-hal dan hil-hil (menurut saya 'hil' adalah sesuatu yang lebih kecil daripada 'hal', tapi kata ini sudah saya cek, tidak ada di KBBI*) yang kurang penting.


Oleh karena saya belakangan kurang kreatif, saya hanya ingin sekedar mencorat-coret saja, dan corat-coret saya kali ini adalah mengenai menyangkut tentang Indomie dan Teh Botol. Maaf, kalimatnya memang agak redundant dan mubazir. Apa daya, saya kepingin menulisnya begitu. Lagipula ini kan blog saya, jadi ini adalah merupakan (redundant lagi) salah satu tempat di mana saya bisa bertindak semau dan sesuka saya.

Awalnya, saya mengingat masa-masa lebih muda saya dulu, di SMU. Kali ini scene-nya adalah waktu istirahat (pukul berapa saya pun lupa). Saat-saat di mana semua orang pergi ke kantin, sementara saya pergi ke perpustakaan untuk belajar. Maaf, saya bohong. Tentunya saya ikut pergi ke kantin juga. Ada salah satu warung bakso di kantin sekolah kami, yang menawarkan menu Indomie goreng. Bukan promosi, memang merk mie instan yang dipakai itu ya Indomie. Berbeda dengan Indomie goreng yang sering saya beli di Warung Bubur Kacang Ijo semasa kuliah, Indomie goreng di kantin sekolah saya ini kok rasanya enak. Tapi memang, enak kan relatif. Dugaan saya, sebab dia direbus di dalam kuah bakso. Indomie goreng yang direbus dengan kuah bakso itu dihidangkan pastinya dan tentunya bersama 2-3 butir bakso. Nah, makan semangkok Indomie goreng ini, sudah pasti cocok dengan Teh Botol dingin. Slogan Teh Botol itu memang tidak berlebihan, saya rasa.

Tahukah Anda bahwa Indomie adalah instrumen diplomasi kebudayaan Indonesia yang hebat? Anda tidak tahu, sebab belum ada ahli atau peneliti yang menulis atau mengatakan hal itu. Yah sebenarnya yang mengklaim begitu ya mungkin cuma saya. Maaf, saya mengatakan demikian bukan berdasarkan riset, hanya sekedar pengamatan sambil lalu saja. Lha wong saya ini kuliah aja milihnya non-research kok. Jadi jangan berharap ada data pendukung atau lampiran berupa interview atau kuesioner.

Saya sih tidak heran kalau mie instan adalah menu favorit (atau terpaksa jadi favorit, atau pernah favorit lalu karena keseringan jadi eneg dan bosan) dari para anak kos (di sini saya menulis 'para anak kos', dan bukan 'para anak-anak kos' karena saya tahu itu salah dan redundant). Tapi kalau ada bule yang memborong sepaket Indomie goreng, itu tentu membuat saya terharu. Itulah mengapa saya mengatakan Indomie adalah instrumen diplomasi kebudayaan Indonesia yang cukup berhasil. Lho, bukankah makanan itu budaya? Benar, bukan? Budaya makan, maksudnya. Maaf, agak memaksa... Beginilah kalau masih belajar menulis. Banyak kekurangannya.

Jika masyarakat internasional tahu Indomie merupakan produk dari Indonesia dan kemudian mencari tahu di mana Indonesia berada di dalam peta, maka saya rasa Indomie telah berhasil membantu diplomasi kebudayaan Indonesia. Tentunya ini lebih menguntungkan pemerintah, ketimbang membiayai promosi pariwisata yang mahal dan selalu saja kalah dengan promosi pariwisata negeri-negeri tetangga.

Saya sudah bercerita tentang tentang teman-teman saya yang hebat yang kini berada di berbagai negara untuk menunaikan tugas mulia (lihat judul Around the World). Pada waktu mereka ini sampai di negara tujuannya masing-masing, banyak yang membicarakan ‘Indomie’. Tentang bagaimana mereka mendapat sekardus Indomie sebagai bahan persediaan awal, tentang bahagianya mereka menemukan Indomie di negara antah berantah, dan tentang Indomie-nya yang rasanya kok berbeda dengan yang di Indonesia.

Untunglah, di Melbourne rasa Indomie-nya sama persis dengan yang di warung Pak Nardi! Hm, itu warung di dekat rumah saya di Jakarta. Di sini Indomie tidak hanya ditemukan di supermarket oriental atau Asian grocery store, tetapi juga di supermarket-supermarket besar seperti Safeway. Dan dari namanya, tentu semua orang asing (harusnya dan yang cukup pintar) tahu, dari mana Indomie berasal. Saya bangga. Karena Indomie dijual di mana-mana di negeri ini, bahkan peminatnya bukan lagi hanya para penerima beasiswa Ausaid asal Indonesia, tetapi juga bangsa lain. Bukan hanya bule, pernah lihat orang India beli Indomie goreng juga. Agaknya, primadona di sini adalah Indomie goreng. Saya lihat Indomie rebus less interesting buat mereka.

Pada suatu malam di tengah musim dingin yang sunyi dan senyap, sendirian di rumah tanpa televisi, internet dan suami, saya mendengarkan radio. Bertambah bangga saya mendengar iklan Indomie di radio. Di iklan berbahasa Inggris itu, mereka memakai kata 'mie goreng'. Hebat bener Indomie ini.

Dulu di KL, saya dan teman saya sering mengeluh kalau harus makan mie instan lokal. Karena kurang cocok rasanya dengan lidah kami. Waktu itu tahun 2004, dan kami sulit menemukan Indomie di supermarket besar di kota itu, karena merk lokal pun sudah banyak sekali. Malah anehnya, saya pernah nemu mie instan lokal yang bertuliskan “Mee Rasa Indonesia”. Entahlah apa maksudnya. Indomie hanya kami temukan di toko-toko di daerah di mana banyak orang Indonesia tinggal. Senang sekali rasanya kalau jumpa Indomie waktu itu. Tapi mungkin sekarang, Indomie sudah masuk supermarket besar pula. Entahlah. Saya dengar pula di Amerika dan negara lain, Indomie mudah didapat. Mohon koreksi jika salah. Saya tidak banyak bepergian.

Teh Botol. Satu lagi ciri khas Indonesia, yang sayangnya, menurut saya, belum sesukses Indomie. Namun, Teh Botol ini sangat dicinta bangsa Indonesia, terutama yang sedang berada di luar negeri.

"Teh botol is to Indonesian as teh tarik is to Malaysian and Coca Cola to an American"

-Fairy Mahdzan, 2002, An Eye-Opening Trip to Jakarta, Indonesia!

Dan tahukah Anda bahwa Teh Botol (Sosro) adalah minuman teh dalam botol pertama di dunia? Menurut saya itu hebat.


Di bawah panas menyengat summer kemarin, saya dan teman saya mendapati fatamorgana kios Teh Botol di deket halte tram. Membayangkan to sip Teh Botol dingin through a straw adalah seperti berjumpa oase di padang pasir. Sering sekali, saya dan suami membeli sepaket Teh Botol (atau Teh Kotak, karena menurut kami Teh Botol lebih sedap dari botolnya langsung, dan bukan dari tetra pack) dari toko Indonesian groceries (karena Teh Botol tidak masuk ke Safeway) untuk persediaan di rumah. Namun sayang sekali, persediaan itu pasti cepat sekali ludes dari kulkas.

Baik Indomie maupun Teh Botol kalau dikonsumsi terus menerus dan sering tentu efeknya tidak baik bagi kesehatan. Saya juga menyadari tidak semua orang bisa menikmati Indomie dan Teh Botol, thus, tidak semua orang menyukai tulisan saya ini. Bagaimanapun saya sekedar melepas kepenatan otak saja. Lagipula sudah ditanya terus, kenapa sudah lama tidak menulis. Baiklah, ini saya tulis walaupun terlalu amat sangat tidak bermutu sekali (redundant lagi, tapi apa daya, kantor Pusat Bahasa jauh dari sini, itu di Rawamangun kan? Jadi bebas lah saya dari kecaman mereka.).

Sekian dulu. Saya lapar.

Indomie goreng, anyone? Pake bakso? Ok. Minumnya apa?

***

*Kamus Besar Bahasa Indonesia

Lihat juga:

Indomie Mie Goreng on Wikipedia

Sejarah Sosro

The Unusual Teh Botol Quibble

 
template by suckmylolly.com